Menarche Dini: Mengapa Anak Perempuan Sekarang Menstruasi Lebih Cepat?

By Tim Parapuan, Sabtu, 5 April 2025

Remaja perempuan kerap mengalami menarche dini

Parapuan.co - Menjadi perempuan berarti mengalami berbagai fase perubahan dalam tubuh, salah satunya adalah menarche atau menstruasi pertama. Momen ini sering kali menjadi titik balik kehidupan seorang anak perempuan, menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja.

Menarche, atau menstruasi pertama, adalah salah satu tonggak penting dalam kehidupan seorang perempuan. Mengutip dari Cleveland Clinic, idealnya menarche terjadi pada usia 12 hingga 15 tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak perempuan yang mengalami menarche lebih dini, bahkan sebelum usia 10 tahun.

Fenomena di atas dikenal sebagai menarche dini dan telah menjadi perhatian dunia kesehatan karena dampaknya terhadap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anak perempuan.

Sebagai perempuan, kita memahami betapa pentingnya kesiapan dalam menghadapi perubahan tubuh. Menarche dini dapat menjadi pengalaman yang membingungkan, bahkan menakutkan bagi anak perempuan yang belum cukup matang secara emosional untuk menghadapinya.

Oleh karena itu, memahami penyebab, dampak, serta langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengelola atau mencegah menarche dini menjadi hal penting. Berikut informasi tentang menarche dini serta bagaimana menghadapinya dengan bijaksana apabila buah hati atau sanak saudara ada yang mengalami.

Berdasarkan The International Journal of Advanced Health Science and Technology, menunjukkan bahwa berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya menarche dini, termasuk faktor gizi dan pola makan.

Anak perempuan yang mengonsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan produk olahan cenderung mengalami peningkatan berat badan cepat yang dapat memicu percepatan produksi hormon estrogen, hormon dalam perkembangan pubertas.

Baca Juga: Memahami Autisme pada Anak Perempuan dan Kenapa Sulit Terdiagnosis

 

 

Selain itu, faktor lingkungan juga berperan penting. Paparan terhadap zat kimia, seperti yang terdapat dalam plastik dan kosmetik, juga polusi dapat mengganggu sistem endokrin dan mempercepat pubertas. Faktor genetik juga tidak dapat diabaikan, jika ibu mengalami menarche dini, kemungkinan besar anak perempuannya juga akan mengalami.

Menarche dini memiliki dampak yang luas bagi kesehatan perempuan muda. Secara fisik, anak yang mengalami menarche dini memiliki risiko lebih tinggi terhadap obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Percepatan pubertas juga dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang. Ini menyebabkan anak mencapai tinggi badan dewasa lebih cepat, tetapi lebih pendek dibandingkan anak yang menstruasi pertama pada usia normal.

Dari sisi psikologis, anak perempuan yang mengalami menarche dini sering kali mengalami tekanan emosional. Mereka mungkin merasa berbeda dari teman-teman sebayanya dan menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh yang terjadi lebih cepat dari seharusnya. Pada akhirnya, ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Selain dampak fisik dan psikologis, menarche dini juga membawa tantangan sosial. Anak-anak yang mengalami pubertas lebih awal sering kali dianggap lebih dewasa dari usianya sehingga dapat meningkatkan risiko pelecehan atau eksploitasi.

Tak hanya itu, mereka mungkin lebih rentan terhadap tekanan sosial untuk terlibat dalam aktivitas yang belum sesuai dengan usianya, seperti hubungan romantis lebih awal atau eksposur terhadap pergaulan lebih dewasa.

Sebagai perempuan dewasa, penting untuk mengetahui beberapa langkah untuk mencegah atau menunda terjadinya menarche dini pada remaja perempuan, dikutip dari Journal of The Indonesian Medical Association.

1. Pola makan seimbang dengan mendorong anak untuk mengonsumsi diet seimbang yang kaya serat dan rendah lemak. Ini dapat membantu mengatur berat badan dan menunda usia mengalami menarche.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Democratic Parenting dan Penerapannya dalam Mengasuh Anak

 

2. Aktivitas fisik teratur dengan mendorong anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik secara rutin sehingga berat badan yang sehat terjaga dan menunda pubertas. 

3. Pengelolaan stres dengan membantu anak mengembangkan keterampilan coping yang efektif. Selain itu, menyediakan lingkungan yang mendukung anak juga dapat mengurangi stres dan potensi dampaknya terhadap pubertas.

4. Edukasi seksual yang tepat dengan memberi informasi yang sesuai usia tentang perubahan tubuh dan seksualitas. Ini dapat membantu anak memahami dan menghadapi perubahan yang terjadi selama pubertas.

5. Pembatasan paparan media dengan mengawasi dan membatasi paparan anak terhadap konten media yang tidak sesuai. Tentunya, ini dapat membantu mencegah percepatan perkembangan psikoseksual.

Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak perempuan menghadapi perubahan ini. Memberikan edukasi sejak dini mengenai pubertas dan menstruasi dapat membantu anak memahami perubahan yang terjadi dalam tubuhnya, sehingga mereka tidak merasa takut atau bingung ketika mengalami menarche.

Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak sangat penting. Anak perempuan yang mengalami menarche dini mungkin merasa tidak nyaman atau malu untuk membicarakannya. Oleh karena itu, orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung agar anak merasa aman untuk berbicara tentang tubuhnya.

Dengan memberikan edukasi tepat dan menciptakan lingkungan yang mendukung, kita dapat membantu anak perempuan menghadapi pubertas dengan lebih sehat juga percaya diri.

Menarche dini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu dipahami dan dikelola dengan bijaksana agar anak perempuan dapat berkembang dengan baik, tanpa harus kehilangan masa kanak-kanaknya terlalu cepat.

Baca Juga: Mengenal Strawberry Parenting, Pola Asuh yang Selalu Menuruti Keinginan Anak

(*)

Celine Night