Parapuan.co - Hari Raya Idulfitri atau Lebaran adalah momen penuh kebahagiaan karena ada silaturahmi dengan keluarga besar, menyajikan makanan istimewa, dan membersihkan rumah.
Lebaran memang meriah, tetapi ada satu hal yang sering kali luput dari perhatian yakni peran ganda perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dalam mengelola segala persiapan.
Di sini, kamu memikul tanggung jawab ganda yang melibatkan persiapan fisik dan emosional demi memastikan kelancaran dan keberkahan perayaan bagi seluruh anggota keluarga. Belum lagi, urusan keuangan juga memberikan tantangan tersendiri untuk perempuan dalam mengelolanya.
Beban Ganda Perempuan dalam Tugas Domestik
Dari pagi, perempuan atau khususnya ibu sudah disibukkan dengan menyiapkan makanan khas Lebaran. Penulis memiliki kerabat yang sudah disibukkan menyiapkan sajian Lebaran, bahkan satu hari sebelum perayaan. Hal ini dilakukan agar makanan yang disajikan saat Lebaran nanti tidak mengecewakan keluarganya.
Endah Sapta Wati, ibu rumah tangga asal Solo, Jawa Tengah ini sudah mempersiapkan hidangan Lebaran satu hari sebelumnya. Endah mengaku bahwa persiapan ini dilakukan untuk menyambut anaknya dari perantauan.
"Ya meskipun cape masak ini itu, tapi demi menyambut anak ya dipersiapkan (masakannya)," ujar Endah saat penulis bertanya padanya pada Senin (31/4/2025). Ia juga mengatakan bahwa uang yang ia keluarkan untuk memasak hidangan Lebaran ini tidaklah sedikit, namun ia tak mau ambil pusing.
"Enggak sedikit (pengeluarannya) tapi namanya juga Lebaran, setahun sekali," imbuhnya. Tak tanggung-tanggung, Endah menyiapkan dua menu yang berbeda di hari Lebaran, yakni sup matahari dan bakso untuk hari kedua. Berkaca dari pengalaman Endah, banyak ibu rumah tangga yang harus bangun lebih awal, bahkan sejak dini hari untuk mulai memasak.
Belum lagi, tugas-tugas ini seringkali dianggap sebagai bagian dari kewajiban perempuan dalam ranah domestik, sebuah pandangan yang sudah mengakar pada budaya masyarakat kita. Beban ganda yang ditanggung oleh perempuan selama Lebaran dapat menimbulkan berbagai dampak, baik secara fisik maupun psikologis.
Baca Juga: Standar Kecantikan di Hari Raya: Perlukah Perempuan Tampil Sempurna?
Kurangnya waktu istirahat akibat memasak dan tidur larut setelah membereskan rumah dapat menyebabkan kelelahan. Selain itu, tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga dalam menyajikan perayaan yang sempurna dapat menimbulkan stres dan kecemasan.
Bukan hanya memasak dan menyajikan makanan, penulis juga menyoroti bahwa perempuan juga harus memastikan rumah dalam kondisi bersih dan rapi saat Lebaran. Alhasil, ibu rumah tangga sering kali harus melakukan general cleaning, seperti menyapu, mengepel, mencuci gorden, membersihkan perabot, dan menata ulang ruang tamu agar lebih nyaman untuk menerima tamu.
Tugas ini semakin berat jika tidak ada pembagian kerja yang adil dalam keluarga. Sayangnya, dalam banyak kasus, tanggung jawab membersihkan rumah masih lebih banyak dibebankan pada perempuan saja.
Menurut laman Now What, ada alasan mengapa perempuan selalu dibebankan dalam tugas rumah tangga, termasuk dalam menyambut Lebaran. Salah satu alasan utamanya adalah stereotip gender dan pembagian kerja berdasarkan gender. Stereotip gender menganggap perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh, sedangkan laki-laki sebagai pencari nafkah.
Dampaknya, perempuan rentan mengalami kelelahan fisik dan emosional. Di sisi lain, tekanan akan peran domestik ini juga membuat kualitas hidup perempuan menurun dan kesulitan menyeimbangkan peran di dalam juga luar rumah.
Walau demikian, stereotip akan peran perempuan dalam pekerjaan domestik ini masih sangat sulit dipatahkan. Apalagi, masih banyak masyarakat kita yang menganggap jika perempuan 'hanya ditakdirkan di rumah saja'.
Beban Perempuan dalam Mengatur Keuangan
Selain urusan rumah tangga, perempuan juga sering kali menjadi pengatur keuangan keluarga. Saat Lebaran, pengeluaran cenderung meningkat karena adanya kebutuhan seperti membeli baju baru, memberikan THR kepada keluarga dan asisten rumah tangga, serta membeli bahan makanan dalam jumlah besar.
Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa berdampak pada kondisi keuangan setelah Lebaran. Oleh karena itu, perempuan harus memiliki strategi keuangan matang, seperti membuat anggaran belanja yang realistis, memprioritaskan kebutuhan esensial, dan menghindari pengeluaran impulsif.
Peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga saat Lebaran adalah realitas yang sering kali dianggap biasa, padahal membutuhkan tenaga dan pikiran luar biasa. Dari memasak, membersihkan rumah, mengatur keuangan, hingga menjaga kesehatan fisik dan mental, semua menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dikelola dengan baik.
Agar Lebaran tetap menjadi momen bahagia tanpa stres berlebihan, penulis menekankan bahwa penting bagi keluarga untuk memahami dan mendukung peran perempuan. Pembagian tugas yang adil serta menjaga keseimbangan antara tanggung jawab rumah tangga dan kebutuhan pribadi adalah kunci utama agar ibu rumah tangga tetap bisa menikmati hari raya dengan nyaman.
Bukankah Lebaran memberikan kebahagiaan untuk semua orang, tapi kenapa tugas-tugasnya hanya dibebankan pada perempuan saja?
Baca Juga: Fakta Miris: Jurnalis Perempuan Rentan Menghadapi Kekerasan
(*)