Perempuan tidak ditempatkan dalam peran di mana mereka dapat mengendalikan sebuah adegan.
Dalam pandangan ini, justru laki-lakilah yang sebenarnya dilihat.
Ketidaksetaraan ini memaksakan gagasan kuno dan ketinggalan zaman tentang 'laki-laki yang melihat, dan perempuan harus dilihat'.
Teori male gaze ini pun melahirkan diskursus lain tentang perempuan dalam film, yakni female gaze.
Berbeda dengan male gaze, female gaze memandang perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri, yang justru dapat mempertanyakan tatanan patriarki.
Hal ini pun membuat pandangan perempuan lebih beragam dan memiliki kekhasannya tersendiri.
Menurut Iris Bey dalam The Female Gaze : A Revolution On Screen, perempuan tidak lagi digambarkan dengan cara vouyeurisme dan objektifikasi, melainkan sebuah subjek yang bergerak.
Adegan erotis pun digambarkan sebagai hal yang dilakukan dengan sadar dan tidak lagi menonjolkan bentuk tubuh perempuan agar memicu gairah.
Film dengan female gaze pun akan menimbulkan pengalaman senang yang lebih menonjolkan perkembangan emosional dan pengalaman yang dialami oleh perempuan.
Sensitivitas perempuan yang kerap kali digambarkan sebagai kelemahan, justru menjadi kekuatan tersendiri untuk menghidupkan cerita dalam film atau media lainnya.
Selain itu, film dibangun dengan cara yang memungkinkan penonton untuk merasakan pengalaman perempuan.
Hubungan seksual dalam film female gaze digambarkan emosional, lambang cinta kasih, dan eksplorasi gambar sebagai seni, bukan menonjolkan bagian tubuh perempuan demi memantik gairah.
Baca Juga: Mengenal Female Gaze, Cara Lensa Perempuan Memandang Dunia dalam Film
(*)