Pemberdayaan Perempuan Jadi Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

David Togatorop - Jumat, 13 Desember 2024
Hari Ibu ke-96 menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan dalam pembangunan bangsa.
Hari Ibu ke-96 menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan dalam pembangunan bangsa. iStock/Drazen Zigic

Parapuan.co - Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-96 dengan tema "Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045", Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengadakan diskusi yang mengangkat subtema “Perempuan Berdaya”.

Tema itu menjadi fokus perayaan tahun ini, dengan menyoroti kontribusi strategis perempuan di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Dalam konteks kemajuan teknologi dan globalisasi, pemberdayaan perempuan dipandang sebagai langkah krusial dalam mewujudkan kesetaraan gender dan keberlanjutan pembangunan.

Plt. Deputi Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Rini Handayani, menegaskan bahwa Hari Ibu adalah momen untuk menghargai perjuangan perempuan sekaligus mendorong peran aktif mereka dalam pembangunan bangsa.

"Dengan memberdayakan perempuan, kita sedang membangun masa depan bangsa. Perempuan yang berdaya mampu memberikan dampak positif di berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, komunitas, hingga pembangunan nasional," ujar Rini Handayani.

Identitas Hari Ibu ke-96 ditandai dengan simbol kuntum melati, angka tahun, dan warna merah putih, yang mencerminkan semangat perjuangan dan komitmen terhadap kesetaraan gender.

Tema tahun ini juga memberikan apresiasi kepada perempuan atas kontribusi mereka dalam mendukung pembangunan nasional serta mendorong perhatian terhadap isu-isu strategis.

Salah satu inisiatif unggulan dalam peringatan ini adalah peluncuran program Ruang Bersama Indonesia (RBI), yang dikembangkan dari konsep Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Melibatkan enam wilayah percontohan, RBI bertujuan meningkatkan perhatian terhadap perempuan, anak, serta kelompok rentan melalui kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif.

Baca Juga: KPPPA Kenalkan Nilai Pancasila pada Anak melalui Permainan Tradisional

Margaretha Hanita, Ketua Yayasan Ketahanan Perempuan dan Anak, juga menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan di era digital, seperti rendahnya literasi digital, ancaman kekerasan berbasis elektronik, dan akses teknologi yang terbatas.

Namun, ia juga menekankan peluang besar yang terbuka, termasuk dalam bidang e-commerce, pendidikan, dan kepemimpinan.

"Kami mendukung perempuan untuk memanfaatkan transformasi digital dengan bersuara, berkarya, dan berbudaya. Perempuan harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan digital, tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pencipta dan inovator," ujar Margaretha.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersatu memanfaatkan teknologi secara bijak dan mendorong perempuan untuk terus berkontribusi demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045. (*)

Baca Juga: Angka Keterwakilan Perempuan di Parlemen: Indonesia Tertinggal Jauh

Penulis:
Editor: David Togatorop


REKOMENDASI HARI INI

Lea, Dita, Jinny, dan Minji Putuskan Hengkang dari SECRET NUMBER