5 Langkah Strategis untuk Melindungi Bisnis dari Krisis di Era Teknologi

Arintha Widya - Jumat, 28 Februari 2025
Strategi bisnis untuk mengantisipasi krisis di era digital.
Strategi bisnis untuk mengantisipasi krisis di era digital. FreshSplash

Parapuan.co - Kemajuan teknologi yang pesat sering kali melampaui kesiapan industri. Pesaing baru dapat muncul secara tiba-tiba sementara ekspektasi pelanggan terus berkembang, menuntut para pemimpin bisnis untuk selalu waspada.

Pesatnya teknologi tidak hanya membantu bisnis berkembang, tapi juga memunculkan tantangan seperti serangan siber atau penipuan digital lainnya. Hal ini bisa membuat sebuah bisnis mengalami krisis jika tidak diantisipasi.

Alih-alih sekadar menambal celah, ada baiknya para pebisnis mulai memperkuat "imun" dari dalam, yaitu memperkuat kemampuan inti. Berikut lima strategi yang bisa dilakukan untuk melindungi bisnis dari krisis seperti merangkum Entrepreneur!

1. Beradaptasi dengan Ekosistem Teknologi Modern

Banyak perusahaan terlambat menyadari bahwa gagal mengikuti perkembangan teknologi bisa menghambat kemajuan. Strategi cloud-first yang proaktif memberikan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan ekspektasi pelanggan, beban kerja yang berfluktuasi, dan realitas tenaga kerja jarak jauh.

Namun, adopsi cloud tidak akan efektif jika kinerja jaringan tidak optimal. Pemadaman berkala atau kinerja jaringan yang tidak konsisten dapat merugikan bisnis, menurunkan produktivitas karyawan, dan mengikis kepercayaan pelanggan.

Oleh karena itu, para pemimpin harus mengevaluasi performa internet mereka, mengidentifikasi titik lemah, dan mengoptimalkan konektivitas, terutama untuk layanan penting yang tidak boleh terganggu. Audit teknologi secara berkala juga sangat penting.

Banyak perusahaan mengakumulasi alat yang tidak lagi relevan, baik karena sistem lama yang dipertahankan "sekadar berjaga-jaga" atau proyek internal yang tidak berkembang. Dengan menyederhanakan ekosistem teknologi, adopsi inovasi baru menjadi lebih mudah.

2. Membangun Budaya Kesadaran Keamanan Digital

Baca Juga: 5 Solusi Supaya Uang Aman di Tengah Maraknya Kejahatan Finansial

Seiring pertumbuhan bisnis, jejak digitalnya juga semakin luas, sehingga meningkatkan risiko keamanan. Setiap koneksi baru bisa menjadi celah bagi ancaman siber.

Salah satu langkah paling efektif dalam memperkuat keamanan adalah membangun budaya kesadaran keamanan siber. Organisasi yang memperlakukan keamanan sebagai tanggung jawab kolektif lebih siap dibanding mereka yang hanya mengandalkan tim khusus atau perangkat lunak kompleks.

Pelatihan rutin mengenai phishing, rekayasa sosial, dan penanganan informasi sensitif dapat mencegah serangan siber yang umum terjadi. Selain itu, pemantauan real-time berbasis kecerdasan buatan telah menjadi elemen penting dalam keamanan siber.

Teknologi ini dapat mendeteksi pola lalu lintas mencurigakan dan mencegah serangan sebelum menimbulkan kerugian besar. Dari perspektif kepemimpinan, sangat penting untuk memastikan bahwa setiap insiden keamanan segera diidentifikasi dan ditangani tanpa penundaan.

3. Inovasi, Adaptasi, dan Rekonstruksi

Teknologi canggih dan sistem keamanan yang kuat tidak akan berguna jika perusahaan tidak mampu beradaptasi. Fleksibilitas dimulai dengan berfokus pada pelanggan. Pasar bisa berubah karena berbagai alasan, dan ekspektasi pelanggan akan ikut menyesuaikan.

Selain itu, membangun redundansi dalam operasi kritis adalah langkah praktis untuk mengantisipasi gangguan. Misalnya, menjalin kerja sama dengan beberapa pemasok untuk mengurangi dampak kelangkaan bahan baku atau mendiversifikasi platform cloud agar pemadaman di satu wilayah tidak melumpuhkan seluruh bisnis.

Budaya internal juga memainkan peran besar dalam ketahanan dan ketangkasan organisasi. Ketika pemimpin mendorong budaya inovasi dan eksperimentasi, mereka memberi tim kebebasan untuk menguji ide baru, beradaptasi dengan cepat, dan merespons perubahan tanpa prosedur birokratis yang menghambat.

4. Tetap Fokus Saat Mengembangkan Bisnis

Baca Juga: Tantangan Wirausaha Perempuan Mengembangkan Bisnis, Salah Satunya Jadi Care Worker di Rumah

Semakin besar organisasi, semakin kompleks pula strukturnya. Standarisasi proses inti sejak awal ekspansi membantu memastikan konsistensi dan efisiensi. Dokumentasi yang jelas mengenai prosedur dukungan pelanggan, pembaruan produk, dan operasi lainnya dapat mengurangi ambiguitas dan meningkatkan efektivitas.

Saat merekrut eksekutif atau manajer tim, pilih individu yang mampu bekerja di lingkungan dinamis dan dapat menginspirasi tim mereka. Pemimpin yang berpengalaman dalam mengelola ketidakpastian akan memastikan bahwa pertumbuhan perusahaan tetap terarah dan tidak berubah menjadi kekacauan.

5. Ekspansi Tanpa Berlebihan

Ekspansi yang sukses tidak harus mengorbankan ketahanan bisnis. Strategi pertumbuhan yang kuat harus mencakup mekanisme untuk mendeteksi risiko secara cepat, menyesuaikan sumber daya, dan menjaga kelangsungan operasional. Penetapan tolok ukur yang jelas membantu mencegah perusahaan terjebak dalam ambisi yang tidak realistis.

Analitik data kini memainkan peran penting dalam keseimbangan ini. Memantau metrik seperti churn pelanggan, Net Promoter Score (NPS), dan uptime jaringan dapat memberikan wawasan real-time tentang titik-titik tekanan yang muncul.

Misalnya, peningkatan churn dapat menandakan ketidakpuasan terhadap pembaruan produk, sementara penurunan uptime dapat mengindikasikan perlunya peningkatan infrastruktur sebelum gangguan kecil menjadi masalah besar.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan besar telah mempercepat penggunaan analitik untuk mengidentifikasi masalah dengan cepat dan mengambil keputusan berbasis data. Dengan wawasan real-time, perusahaan dapat lebih responsif terhadap tantangan bisnis.

Baca Juga: 4 Pertimbangan Sebelum Mengajukan Pinjaman Modal Usaha untuk Ekspansi Bisnis

(*)

Sumber: Entrepreneur.com
Penulis:
Editor: Arintha Widya


REKOMENDASI HARI INI

5 Langkah Strategis untuk Melindungi Bisnis dari Krisis di Era Teknologi