Parapuan.co - Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan berita wafatnya dua pendaki perempuan Lilie Wijayanti Poegiono (59) dan Elsa Laksono (59) di puncak Carstensz Pyramid, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Sabtu (1/3/2025).
Dikabarkan Lilie dan Elsa mengalami hipotermia hingga meninggal dunia ketika mendaki gunung, karena cuaca ekstrem termasuk hujan salju, hujan deras, dan angin kencang.
Melansir Kompas.com, hipotermia adalah keadaan saat kondisi tubuh berada di bawah 35 derajat Celcius. Sebagai informasi, suhu normal seseorang yaitu 36,5 hingga 37,5 derajat Celcius. Jika tidak segera mendapatkan penanganan dari pihak tenaga kesehatan, hipotermia akan menyebabkan komplikasi dan mengancam jiwa.
Adapun penyebab hipotermia secara umum adalah ketika kondisi tubuh berada di suhu yang sangat dingin dalam jangka waktu yang lama. Hal ini mengakibatkan tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang dihasilkan dan dampaknya energi yang tersimpan dalam tubuh akan habis serta suhu tubuh menurun.
Maka jika suhu tubuh terlalu rendah dapat memengaruhi otak, tidak dapat berpikir jernih, maupun bergerak dengan baik. Selain itu, penyebab hipotermia yang sering ditemui yaitu, tidak mengenakan pakaian yang tebal dan hangat saat cuaca dingin, terpapar air dingin serta mengenakan pakaian basah terlalu lama.
Namun, menurut dr. Dony Yugo Hermanto, Sp. J.P, Subsp. Ar. (K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dari RSPI, apa yang dialami oleh Lilie dan Elsa di puncak Carstensz Pyramid ini bukan sekadar karena serangan hipotermia saja. Ada risiko kesehatan lainnya yang bisa mengancam kita ketika mendaki gunung yang sangat tinggi.
"Ketika mendaki gunung tidak sesimpel hipotermia aja sebetulnya yah. Bisa membunuh (hipotermia) memang iya, karena di tubuh kita punya enzim-enzim untuk make sure bahwa metabolisme kita terjaga baik. Enzim-enzim itu ada kadar suhu dimana enzim itu bekerja. Kalau suhunya terlalu rendah, enzimnya tidak bekerja. Dan kalau tidak ada bisa gagal," jelas dr. Dony saat ditemui PARAPUAN (5/3/2025).
Tapi, selain hipotermia, kematian pada para pendaki bisa jug disebabkan oleh acute mountain sickness atau altitude sickness. Apa perbedaan keduanya?
Acute mountain sickness atau penyakit gunung akut disebabkan oleh tekanan udara yang rendah dan kadar oksigen yang rendah di dataran tinggi, seperti melansir Medline Plus. Semakin cepat Kawan Puan mendaki ke dataran tinggi, semakin besar kemungkinanmu akan terkena acute mountain sickness. Cara terbaik untuk mencegah penyakit ketinggian adalah dengan mendaki secara bertahap.
Baca Juga: Kenapa Pendaki Gunung Rentan Mengalami Hipotermia? Ini Jawabannya