Gejala dari kondisi ini sangat tergantung pada kecepatan pendakian dan seberapa keras kamu memaksakan diri. Gejalanya berkisar dari ringan hingga mengancam jiwa, yang dapat memengaruhi sistem saraf, paru-paru, otot, dan jantung.
Dalam kebanyakan kasus, gejalanya ringan. Gejala penyakit gunung akut ringan hingga sedang dapat meliputi sulit tidur, pusing atau sakit kepala, kelelahan, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, mual atau muntah, denyut nadi cepat (detak jantung), hingga sesak napas saat beraktivitas.
Sedangkan Altitude Sickness terjadi saat tubuh tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan ketersediaan oksigen yang lebih rendah di atmosfer. Semakin tinggi tempat yang Kawan Puan daki, semakin tipis atmosfernya. Itu berarti menghirup udara dalam jumlah yang sama akan membuat kamu mendapatkan lebih sedikit oksigen daripada di tempat yang lebih rendah, seperti melansir Cleveland Clinic.
Penyakit ini biasanya dapat dicegah dan diobati. Jika parah, penyakit ini dapat dengan cepat berubah menjadi masalah yang mengancam jiwa. Maka dari itu penting untuk mengenali gejalanya dengan cepat.
Altitude sickness dapat menyebabkan banyak gejala yang bervariasi, tergantung pada tingkat keparahannya. Gejala ini biasanya muncul dalam satu atau dua hari pertama setelah mencapai ketinggian.
Gejalanya meliputi sakit kepala (ini adalah gejala yang paling umum), mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, kelelahan (bahkan saat beristirahat), malaise (perasaan "tidak enak badan" yang nyata), sulit tidur, pusing atau sakit kepala, hingga perubahan penglihatan.
"Altitude sickness, karena dia ketinggiannya kurang, bisa menyebabkan parunya kaya banjir. Itu juga bisa terjadi. Jadi sebenarnya banyak hal yang bisa menyebabkan cidera atau kesakitan pada kondisi ekstrem seperti di gunung yang tinggi 3.500 mdpl," jelas dr. Dony lagi.
Ditambahkan juga olehnya, jika kita hanya mendaki gunung biasa, lebih mungkin kita hanya mengalami hipotermia. Namun acute mountain sickness atau altitude sickness itu lebih mungkin terjadi ketika mendaki gunung yang lebih tinggi lagi.
Baca Juga: Tips Aman Mendaki Gunung Bagi Perempuan agar Tak Alami Kejadian Mistis
Untuk mencegah terjadinya ancaman kesehatan tersebut saat mendaki gunung yang tinggi, disarankan oleh dr. Dony untuk menjaga suhu pada core. "Kadang suhu core-nya terjaga, dia pakai (pakaian) yang tebal banget. Tapi suhu perifernya enggak terjaga, si jari enggak dilindungi. Enggak pakai mitten atau sarung tangan, frost bite jadinya.
"Karena efek dingin terhadap pembuluh darah bisa menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Vasokonstriksi tuh dia jadi menyempit, yang artinya enggak ada aliran darah. Itu yang bahaya," jelas dr. Dony.
Maka, untuk mencegah masalah-masalah kesehatan tersebut, dr. Dony pun menyarankan untuk melakukan persiapan yang benar-benar matang sebelum mendaki gunung.
(*)