Memperkuat Upaya Pemberdayaan, Konferensi Nasional Perempuan Perkukuh Kolaborasi Lintas Sektor

Citra Narada Putri - Kamis, 13 Maret 2025
Konferensi Nasional Perempuan jadi upaya untuk memperkuat langkah pemberdayaan.
Konferensi Nasional Perempuan jadi upaya untuk memperkuat langkah pemberdayaan.

Parapuan.co - Kita bisa melihat kemajuan yang besar dalam pemberdayaan perempuan dari berbagai data yang ada. Misalnya seperti data Indeks Pembangunan Gender (Gender Development Index/GDI) Indonesia yang berhasil meningkat dari 91,63 di tahun 2022 menjadi 91,85 pada tahun 2023. Selain itu, Indeks Pemberdayaan Gender juga meningkat dari 76,59 menjadi 76,90.

Namun, pencapaian nasional ini masih di bawah standar global. Dengan GDI Indonesia secara global berada di angka 0,94 dari skala 0 sampai 1, dan pencapaian Women’s Empowerment Index (WEI) di angka 0,568. Walaupun terdapat berbagai capaian positif, bukti menunjukkan bahwa ketimpangan gender tetap menjadi kendala utama, khususnya di bidang kesehatan.

Maka dari itu, dibutuhkan upaya kolektif dan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, LSM dan akademisi bagi peningkatan kesetaraan gender di Indonesia. Salah satunya melalui penyelenggraan Konferensi Nasional Perempuan bertema “Perempuan Sehat dan Berdaya, Menuju Kesetaraan Global” yang diadakan oleh Farid Nila Moeloek (FNM) Society bersama dengan United Nations Population Fund (UNFPA).

Seperti disampaikan oleh dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, dalam pembukaan konferensi ini yang dihadiri PARAPUAN (11/3), data menyatakan bahwa kita masih menghadapi berbagai tantangan untuk memenuhi hak dasar perempuan. Mulai dari permasalahan pemenuhan gizi, risiko penyakit tidak menular, kesehatan reproduksi, kematian ibu, kesehatan jiwa, serta permasalahan kekerasan perempuan dan anak.

"Maka untuk menanggulangi permasalahan tersebut, kita tentu tidak dapat melakukan upaya sendiri, namun melakukan kolaborasi lintas kementerian, seperti dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, BKKBN serta berbagai lembaga lainnya, termasuk bersama dengan elemen masyarakat lain seperti pihak swasta dan komunitas," ujar dr. Maria.

Ia percaya bahwa melalui upaya komprehensif menggunakan pendekatan siklus hidup, berharap dapat memenuhi hak-hak kesehatan perempuan dan mendukung terciptanya perempuan yang berdaya dan kesetaraan gender.

Harapan yang sama juga turut disampaikan oleh Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia. Ia berharap melalui kemitraan ini bisa menjadi langkah nyata membantu perempuan Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan yang layak dan perlindungan dari kekerasan.

Untuk itu, pemerintah berkomitmen terhadap kebijakan dan program yang mendukung kesetaraan gender yang diwujudkan melalui membangun lingkungan yang kondusif bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi, serta melibatkan laki-laki sebagai mitra strategis dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.

Kami percaya bahwa melalui kolaborasi yang erat dan langkah-langkah konkret, kita dapat mencapai perubahan yang signifikan dan berkelanjutan dalam kehidupan perempuan Indonesia. Saya percaya, ketika perempuan mendapatkan kesempatan yang setara, berdaya dalam berbagai sektor baik itu pendidikan, ekonomi, maupun politik— perempuan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan bangsa,” tuturnya.

Baca Juga: Hari Hijab Sedunia 1 Februari: Upaya Menyuarakan Pemberdayaan bagi Perempuan Muslim

Sesuai tema Hari Perempuan Internasional 2025, 'For ALL women and girls: Rights. Equality. Empowerment', FNM mendukung aksi nyata untuk kesetaraan akses dan peluang, serta masa depan inklusif bagi semua, terutama perempuan. Bukannya tanpa alasan, pasalnya pemberdayaan perempuan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

"Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, hampir 50 persen di antaranya adalah perempuan. Jumlah ini mencerminkan potensi luar biasa, tetapi juga menunjukkan bahwa kesenjangan gender yang masih ada perlu segera diatasi. Tantangan ini tidak hanya terletak pada skala yang besar, tetapi juga pada bagaimana memastikan setiap perempuan, di mana pun mereka berada, memiliki akses yang sama terhadap kesempatan, kesehatan, dan perlindungan," ujar Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), Ketua FNM Society.

Sehingga melalui forum tersebut, ia pun berharap tidak hanya tercipta diskusi yang bermakna, tetapi juga dihasilkan aksi konkret yang bisa menginspirasi semua orang untuk berkontribusi sesuai bidang dan keahlian masing-masing. Pasalnya, pemberdayaan perempuan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu.

Ini adalah tugas kita bersama. Dan yang terpenting, perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Saat kita bergerak, kita membawa perubahan bagi lingkungan kita, komunitas kita, dan pada akhirnya, bagi bangsa ini,” ujar Prof. Nila lagi .

Sebagai pendukung acara, UNFPA juga turut ingin menjadikan Hari Perempuan Internasional sebagai momen untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap kesetaraan gender. Kesetaraan gender terkait erat dengan kesehatan seksual dan reproduksi dan hak-hak reproduksi: kesehatan, kesejahteraan dan otonomi perempuan bergantung pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi.

Dan kesetaraan dan pemberdayaan semua perempuan dan anak perempuan mendorong pembangunan dan memajukan perubahan sosial. Semakin sejahtera perempuan dan anak perempuan, begitu pula dengan keluarga, komunitas, dan dunia secara keseluruhan.

"Meskipun telah terjadi banyak kemajuan, tantangan masih ada. Ketimpangan gender, akses layanan kesehatan yang terbatas, serta kekerasan terhadap perempuan masih menjadi penghalang bagi banyak perempuan untuk mencapai potensi penuh mereka," ujar Hassan Mohtashami, UNFPA Indonesia Representative. 

Melalui inisiatif seperti Women at the Center Project yang juga dikenal sebagai Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan (PIHAK), UNFPA terus bekerja untuk memastikan setiap perempuan mendapatkan akses layanan kesehatan reproduksi yang aman dan berkualitas serta bisa menentukan masa depannya sendiri.

Baca Juga: 3 Fakta Hari Perempuan Internasional yang Masih Jarang Diketahui

Selaku salah satu mitra dalam penyelenggaraan acara Konferensi Nasional Perempuan, Takeda menyatakan komitmennya secara global terhadap kemajuan serta pemberdayaan kaum perempuan. Misalnya seperti disampaikan oleh Akiko Amakawa, Corporate Strategy Officer & CEO Chief of Staff, Takeda Pharmaceuticals,

“Di Takeda, keberagaman, kesetaraan, dan inklusi bukan sekadar inisiatif, tetapi telah menjadi bagian dari DNA kami selama lebih dari 240 tahun, termasuk lebih dari 50 tahun di Indonesia. Prinsip ini bukan tambahan dalam cara kami beroperasi, tetapi sudah tertanam dalam pengambilan keputusan kami—mengutamakan pasien, membangun kepercayaan, menjaga reputasi, dan menjalankan bisnis dengan nilai-nilai yang kuat," ujar Akiko.

Ia pun mengaku bangga bahwa 53% dari Global Leadership Team Takeda adalah perempuan, dan di Indonesia, lebih dari 60% kepemimpinannya dipegang oleh perempuan. Namun, komitmen Takeda tidak berhenti di internal perusahaan.

"Kami percaya bahwa akses kesehatan yang berkelanjutan harus menjadi hak semua orang, dan itulah mengapa kami aktif dalam berbagai area terapi, termasuk onkologi, penyakit langka, penyakit gastrointestinal, kesehatan konsumen, dan dengue. Sebagai bagian dari tanggung jawab kami sebagai global corporate citizen, Takeda juga berkontribusi di luar portofolio bisnis kami, tetapi tetap sejalan dengan nilai-nilai kami," ujar Akiko lagi. 

Salah satunya melalui dukungan Takeda terhadap Women at the Centre: Rising Up Against the Pandemic of Violence Against Women, yang dibentuk pada 2023 dan akan berlangsung hingga 2026 serta dijalankan di lima negara. Yaitu Azerbaijan, El Salvador, Madagaskar, Zimbabwe, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, program ini dijalankan melalui kemitraan dengan UNFPA. 

Ia meyakini bahwa kesetaraan dan pemberdayaan bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang aksi nyata. Dengan terus berkolaborasi lintas sektor, kita dapat menciptakan perubahan berkelanjutan yang berdampak bagi perempuan, masyarakat, dan generasi mendatang.

(*)



REKOMENDASI HARI INI

Dampak Psikologis Perempuan yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga