Parapuan.co - Dalam banyak kisah cinta, baik di dunia nyata maupun fiksi, perempuan sering kali dihadapkan pada pilihan, menikah dengan pria yang mapan secara finansial atau mengikuti hati mereka meskipun pasangan hidupnya berasal dari latar belakang ekonomi sulit.
Salah satu contoh menarik yang menggambarkan dilema ini adalah kisah Ae Sun dan Gwan Sik di drakor When Life Gives You Tangerines. Drama Korea yang tayang mulai 7 Maret 2025 di Netflx ini belakangan tengah menjadi perbincangan hangat publik.
Lewat drakor When Life Gives You Tangerines, penonton seakan ditampilkan dengan bagaimana cinta, kesetiaan, dan nilai-nilai kehidupan lebih penting daripada sekadar kestabilan finansial. Contohnya saja sosok Ae Sun yang memilih menikah dengan Gwan Sik, meskipun pada akhirnya ia mengalami berbagai masalah finansial.
Di episode awal, penonton ditampilkan dengan tantangan yang dihadapi Gwan-sik. Ia harus bekerja mati-matian dan tunduk kepada bosnya demi bisa menafkahi keluarga. Sayangnya, pendapatan Gwan-sik tak seberapa dan kondisi terus memburuk, sehingga Ae Sun juga harus memutar otak agar keluarganya bisa tetap makan dari hari ke hari.
Perjalanan rumah tangga Ae Sun dan Gwan Sik ini bahkan membuat penontonnya merasa gemas, tak sedikit komentar lucu yang berharap kondisi ekonomi mereka membaik. Hal ini sontak timbul pertanyaan mengapa perempuan memiliki menikah dengan laki-laki kelas menengah ke bawah?
Kadang-kadang, perempuan memilih untuk menikah dengan laki-laki miskin karena mereka telah menemukan cinta sejati mereka. Hal ini juga seolah tergambar dalam karakter Ae Sun yang jatuh cinta dengan Gwan Sik, tidak peduli status sosial atau finansialnya.
Meskipun mungkin kurang dari segi finansial, laki-laki miskin sering kali memiliki ambisi dan kemandirian yang kuat. Mereka mungkin memiliki impian besar atau bakat yang belum terwujud, ini bisa menjadi faktor daya tarik bagi pasangan mereka.
Sementara menurut laman Brides, ada beberapa indikator yang membuat perempuan memutuskan menikah dengan laki-laki dari kelas menengah ke bawah. Berikut ulasan lengkapnya!
1. Mengenal Satu Sama Lain
Baca Juga: Kenapa Perempuan Memilih Bertahan dalam Pernikahan Tidak Bahagia?
"Kalian masing-masing benar-benar melihat satu sama lain sebagaimana adanya, dan kalian telah menerima apa adanya, bukan sebagaimana kamu berharap akan menjadi apa di masa depan," ujar Dr. Robert Riordan, JD, PsyD, pengacara dan psikolog klinis tentang terapi pasangan.
Sikap yang sudah mengenal satu sama lain menjadi salah satu indikator mengapa perempuan memustukan untuk menikah. Hal ini sering terjadi ketika perempuan menjalin hubungan yang cukup lama.
2. Mempercayai Pasangan
Kepercayaan adalah elemen kunci dalam setiap hubungan jangka panjang. Jika seorang perempuan merasa bahwa pasangannya adalah seseorang yang bisa diandalkan, jujur, dan setia, maka ini bisa menjadi indikator kuat bahwa dia siap menikah.
Kepercayaan tidak hanya terbatas pada kesetiaan dalam hubungan, tetapi juga menyangkut keandalan pasangan dalam berbagai aspek kehidupan. Apakah dia bisa diandalkan dalam situasi sulit? Apakah dia menepati janji-janji kecil maupun besar?
Jika seorang perempuan yakin bahwa pasangannya memiliki integritas yang tinggi dan selalu berusaha membangun kepercayaan dalam hubungan, maka kemungkinan besar dia siap untuk menikah.
3. Memiliki Koneksi Emosional yang Kuat dan Stabil
Salah satu tanda utama bahwa perempuan siap menikah adalah adanya koneksi emosional yang mendalam dengan pasangannya. Koneksi ini mencakup rasa saling memahami, empati, serta kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan bersama.
Baca Juga: Berencana Menikah Setelah Lebaran, Hindari Melakukan Kesalahan Ini saat Persiapan
Dalam sebuah hubungan yang sehat, perempuan tidak hanya merasa dicintai, tetapi juga dihargai dan didukung secara emosional. Komunikasi yang efektif dan kemampuan menyelesaikan konflik tanpa drama berlebihan adalah fondasi dari pernikahan yang langgeng.
Jika kamu merasa bisa berbicara terbuka tentang segala hal dengan pasangan tanpa rasa takut dihakimi, ini bisa menjadi tanda bahwa hubunganmu sudah matang untuk ke jenjang pernikahan.
4. Mampu Menghadapi Konflik dengan Dewasa
Tidak ada hubungan yang sepenuhnya bebas dari konflik. Namun, cara sebuah pasangan menyelesaikan konflik dapat menjadi indikator utama kesiapan untuk menikah.
Pasangan sehat bukanlah yang tidak pernah bertengkar, melainkan mampu menghadapi perbedaan dengan sikap dewasa, saling menghormati, dan mencari solusi bersama.
Jika selama menjalani hubungan, kamu dan pasangan bisa mengatasi perbedaan dengan komunikasi yang terbuka dan tanpa saling menyalahkan, maka ini adalah pertanda bahwa kamu telah memiliki fondasi kuat untuk pernikahan.
Sebaliknya, jika konflik kecil sering berujung pada pertengkaran besar atau sikap menghindar, maka ini bisa menjadi tanda bahwa hubungan perlu diperbaiki sebelum menuju ke jenjang lebih serius.
5. Merasa Bahagia dan Yakin dengan Keputusan yang Dibuat
Pada akhirnya, indikator paling penting dari kesiapan menikah adalah perasaan bahagia dan keyakinan dalam diri sendiri. Jika seorang perempuan merasa bahwa menikah dengan pasangannya adalah keputusan yang membuatnya bahagia, tanpa ada tekanan dari luar, maka itu adalah tanda kesiapan sejati.
Baca Juga: Memahami Dampak Psikis dan Fisik Jika Anak Perempuan Menikah Terlalu Dini
(*)