Perempuan dengan Austisme Sering Dipandang Sebelah Mata, Mengapa?

Saras Bening Sumunar - Kamis, 3 April 2025
Perempuan dengan austime.
Perempuan dengan austime. Freepik

Parapuan.co - Setiap perempuan memiliki peluang yang sama dalam berbagai aspek, termasuk mendapatkan pendidikan hingga berkarier sesuai bidangnya. Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat peluang perempuan seakan terbatas dalam meraih impiannya, termasuk ketika mereka terdiagnosis autisme.

Meskipun sudah banyak kampanye tentang pemberdayaan perempuan, kenyataannya perempuan autistik masih kerap dipandang sebelah mata. Bahkan, kondisi yang mereka alami seakan dianggap sebagai 'aib'.

Tak jarang, perempuan dengan autisme menghadapi berbagai tantangan sosial tanpa dukungan yang memadai. Ditambah lagi, penulis kerap mendapati bahwa autisme pada perempuan terlambat terdiagnosis.

Hal ini disebakan karena perempuan dengan autisme menunjukkan gejala yang berbeda dibandingkan laki-laki. Walau begitu, bukan berarti gejala autisme pada perempuan ini bisa diabaikan.

Bias Gender dalam Diagnosis Autisme pada Perempuan

Perempuan dengan autisme sering kali tidak terdiagnosis atau terlambat didiagnosis karena adanya bias gender dalam kriteria diagnostik yang lebih berfokus pada gejala anak laki-laki. Walaupun kriteria diagnosis autisme terus berkembang, namun masih terdapat kesenjangan dalam mendeteksi autisme pada perempuan.

Menurut sebuah penelitian oleh J Child Psychol Psychiatry, perempuan cenderung mengembangkan strategi kamuflase sosial, yaitu upaya sadar atau tidak sadar untuk menyembunyikan karakteristik autistik agar dapat beradaptasi dengan norma sosial yang ada.

Strategi ini meliputi meniru perilaku sosial orang lain, mempersiapkan skrip percakapan, atau menekan perilaku repetitif. Akibatnya, gejala autisme pada perempuan menjadi kurang terlihat, sehingga menyulitkan proses diagnosis.  

Selain itu, menurut penulis, stereotip sosial tentang peran gender juga berkontribusi pada pengabaian terhadap perempuan dengan autisme. Masyarakat sering memiliki ekspektasi tertentu tentang bagaimana perempuan seharusnya berperilaku, seperti menjadi lebih sosial, empati, dan komunikatif.

Baca Juga: Maskapai Pertama dengan Layanan Ramah Autisme, Misi Inklusivitas untuk Semua



REKOMENDASI HARI INI

Perempuan dengan Austisme Sering Dipandang Sebelah Mata, Mengapa?