Parapuan.co - Libur panjang seperti Thanksgiving, Lebaran, atau Natal dan Tahun Baru sering kali dinantikan banyak orang sebagai momen untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi perempuan yang bekerja, libur panjang bukan hanya soal rehat dari pekerjaan kantor.
Lebih dari itu, ia menjadi waktu berharga untuk memulihkan diri secara fisik dan emosional dari tekanan berlapis yang kerap mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Libur Lebaran atau libur panjang lainnya bisa bermakna mengambil sedikit ruang untuk bernafas bagi perempuan bekerja.
Mengapa demikian dan bagaimana perempuan bisa mengambil jeda? Simak informasinya berikut ini terlebih dulu sebelum Kawan Puan memahaminya!
Tekanan Ganda: Kantor dan Rumah
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh University College London seperti mengutip Quartz, perempuan yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu atau bekerja setiap akhir pekan cenderung menunjukkan gejala depresi lebih tinggi dibandingkan perempuan yang bekerja lebih sedikit jamnya.
Ini bukan tanpa alasan. Selain pekerjaan formal, banyak perempuan juga memikul beban kerja domestik seperti mengurus anak, membersihkan rumah, atau merawat anggota keluarga lain. Saat pekerjaan tidak dibatasi hanya di kantor, maka waktu pribadi nyaris tak tersisa.
Libur Panjang = Ruang untuk Bernapas
Di tengah ritme kerja yang makin fleksibel namun menuntut, libur panjang jadi semacam "ruang napas" yang sangat dibutuhkan oleh perempuan. Momen ini memungkinkan kamu, sebagai perempuan bekerja, untuk:
1. Mengistirahatkan mental dan fisik, menjauh sejenak dari tekanan pekerjaan dan rutinitas domestik.
Baca Juga: Spiritual Holiday: Cara Menikmati Libur Lebaran agar Lebih Bermakna