2. Merekatkan kembali hubungan keluarga, terutama jika kamu memiliki anak atau pasangan yang juga sibuk.
3. Mengembalikan keseimbangan hidup, karena saat kamu berhenti sejenak dari mode “melayani”, kamu memberi diri sendiri kesempatan untuk merasakan kebahagiaan tanpa tuntutan.
4. Menata ulang prioritas, mengevaluasi pekerjaan dan peran yang selama ini kamu jalani, serta memikirkan langkah-langkah ke depan yang lebih selaras dengan kesehatan dan kebahagiaan diri.
Ketimpangan Jam Kerja dan Pengaruhnya
Dalam studi yang sama disebutkan bahwa laki-laki memang cenderung bekerja lebih banyak jamnya di kantor. Namun, perempuan—meski bekerja jam lebih sedikit—masih lebih rentan mengalami tekanan psikologis karena beban tambahan di luar pekerjaan formal.
Jadi meskipun angka di kantor terlihat “lebih ringan”, kenyataannya banyak perempuan harus lembur di dapur dan ruang keluarga. Inilah mengapa libur panjang penting untuk dimaknai secara lebih dalam.
Bukan sekadar waktu luang, tapi sebagai bentuk pemulihan yang kamu butuhkan. Waktu di mana kamu bisa benar-benar melepas beban, bukan hanya menggantinya dari satu bentuk pekerjaan ke bentuk lainnya.
Merayakan Diri, Bukan Hanya Hari Besar
Saat libur panjang datang, kamu tidak perlu merasa bersalah jika ingin menghabiskan waktu hanya untuk dirimu sendiri. Tidur lebih lama, pergi spa, membaca buku yang sudah lama tertunda, atau sekadar menatap langit sore sambil minum teh—semua itu adalah bentuk penghargaan terhadap dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, libur panjang memberi kamu kesempatan untuk kembali merasa utuh—sebagai perempuan, pekerja, ibu, istri, atau apa pun peranmu—dengan lebih sehat dan bahagia.
Kini jelang berakhirnya libur Lebaran 2025, semoga Kawan Puan sudah mendapatkan kembali semangat untuk bekerja lagi.
Baca Juga: Tetap Semangat Bekerja saat Libur Lebaran: 7 Tips Efektif untuk Perempuan Karier
(*)