Dr.  Firman Kurniawan S.

Pemerhati budaya dan komunikasi digital, pendiri LITEROS.org, dan penulis buku Digital Dilemma

Cara Perempuan Menepis Ketakutan yang Ditebarkan Media Sosial

Dr. Firman Kurniawan S. Kamis, 27 Oktober 2022
Saat unggahan media sosial menimbulkan ketakutan, teror, apa yang perempuan bisa lakukan untuk mengatasinya?
Saat unggahan media sosial menimbulkan ketakutan, teror, apa yang perempuan bisa lakukan untuk mengatasinya? PonyWang

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Parapuan.co - Masyarakat hari ini hidup dalam normalisasi keadaan tak ideal. Rasa khawatir, takut, dan terancam, berbagi ruang dengan rutinitas hidup.

Ini tak bisa ditolak, walau hadir berwajah teror. Keadaan tak ideal, diterima sebagaimana rutinitas lainnya.

Salah satu pemicunya, unggahan media sosial. Informasi yang dikonsumsi berulang-ulang dan cenderung dalam jumlah yang kian berlipat.

Sedangkan normalisasi, terjadi dari keadaan tak normal yang diserap mental perlahan-lahan dan ditelan sebagai kelaziman. Kehadirannya tanpa sadar, dianggap normal. Tentu akibat kurang telaah.

Ini karena pengaruhnya yang berulang, terselip bersama unggahan lain yang menarik dan dalam jumlah yang terus meningkat. Kurang waktu untuk menelaahnya secara seksama.

Namun ketika kesadaran terjaga, kelaziman itu berubah jadi teror. Bahkan mampu menggerus kesehatan mental.

Rentetan Berita Teror

Minggu ini ruang pemberitaan media massa maupun unggahan media sosial, dicekam maraknya kasus gagal ginjal akut.

Penderitanya berusia balita dan anak-anak. Penyebabnya baru terkuak, namun dampaknya nyata.

Baca Juga: BERITA TERPOPULER WELLNESS: Gejala Subvarian Omicron XBB yang Sudah Masuk Indonesia hingga Tips Mencegah Gagal Ginjal Akut

Dalam keterangan yang disampaikan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, 24 Oktober 2024, tak kurang 144 dari 245 penderita yang tersebar di 26 provinsi meninggal dunia.

Angka kematian itu mencapai 57% dari seluruh pasien. Artinya yang sembuh maupun yang masih dalam masa perawatan, prosentasenya lebih kecil dari yang meninggal. Tentu ini teror bagi para orang tua.

Kejadian gagal ginjal akut bukan hanya terjadi di Indonesia. Sebulan sebelumnya, berita yang senada bersumber dari Gambia yang juga diwarnai kematian yang memilukan. Merenggut mereka yang masih belia.

Unggahan media sosial bertema serangan pada kesehatan, yang diakhiri kematian memilukan ini, membentuk pusaran ketakutan. Belum lagi terbebas dari ancaman penularan Covid-19, ancaman kematian baru sudah di depan mata.

Teror itu harus ditelan sebagai unggahan, yang terselip bersama peristiwa rutin sehari-hari. Diterima sebagai kelaziman.

Belum juga rasa takut itu reda, ketakutan baru kembali meneror. Ini dipicu oleh maraknya unggahan yang memuat beruntunnya peristiwa kematian akibat penusukan.

Baca Juga: Alami Kekerasan Fisik hingga Psikis, PRT asal Cianjur Mengadu ke KSP

Beberapa kejadiannya berselang tak terlampau lama. Semuanya terjadi di bulan Oktober 2022. Entah kejadian itu saling berhubungan atau tidak, seluruhnya masih jadi penyelidikan polisi.

Peristiwa mengagetkan pertama terjadi pada 19 Oktober malam. Penusukan seorang anak perempuan berusia 12 tahun, di Cimahi.

Anak malang ini mengalami penusukan sepulang mengaji. Sebelum ditusuk, dia dan teman perempuannya berjalan pulang menuju ke rumahnya masing-masing.

Tak terlalu lama keduanya berpisah jalan, anak perempuan ini ditusuk laki-laki tak dikenal. Jasad belianya ditemukan tak terlalu jauh dari tempat penusukan.

Berdasar keterangan sementara, kejadian memilukan dipicu oleh keinginan penusuk memiliki telepon genggam korbannya.

Sementara penusukan yang menimpa anak perempuan di Cimahi belum terungkap, di kota Serang dikabarkan seorang pria ditusuk orang tak dikenal.

Kejadiannya seusai sholat Jumat, 21 Oktober. Waktu hanya terpaut 2 hari, dari penusukan di Cimahi.

Walaupun laki-laki korban penusukan itu sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong. Motif penusukan dan pelakunya masih belum jelas.

Tak berhenti di dua peristiwa muram itu. Sabtu, 22 Oktober, di Kawasan Stasiun Karet- Jakarta, ditemukan jasad seorang pengemudi ojek online. Tewas, yang lagi-lagi akibat tusukan.

Sebagaimana korban di Serang yang sempat dibawa ke rumah sakit, korban ini pun meninggal akibat luka-luka yang dideritanya. Tak jelas pula apa pemicu penusukan, bagaimana kejadiannya dan siapa pelakunya.

Tapi ada satu hal yang pasti dari semua peristiwa di atas: Ketiganya jadi unggahan media sosial.

Baca Juga: Viral di Medsos, Ini Kronologi Bocah SD Ditusuk saat Pulang Mengaji di Jawa Barat

Ini tentu menuai banyak tanggapan dan ditingkahi berbagai analisa. Hal yang turut mengemuka, tentu saja adalah rasa khawatir masyarakat.

Kekhawatiran itu menjadi ketakutan yang matang ketika beredar unggahan wajah pembunuh dari kasus berbeda, yang sedang memindahkan korbannya. Dia melakukannya seakan tanpa beban, senyum sumringah tampil di wajahnya. Smiling killer.

Unggahan-unggahan itu membersitkan seakan kematian dan pembunuhan telah jadi hal yang lazim belakangan ini. Teror tertanam: Kapan giliran berikutnya?

Kamu Menjadi Apa yang Kamu “Makan”

Isi media yang membentuk pikiran khalayaknya, diuraikan dengan runut untuk pertama kalinya oleh George Garbner. Ini mengemuka di tahun 1960-an, jauh sebelum media sosial jadi realitas masyarakat.

Uraiannya kemudian disusun sebagai teori, yang disebut sebagai Cultivation Theory, termuat di antaranya sebagai jurnal Garbner berjudul, “Science on Television: How It Affect Public Conceptions”.

Secara umum, teori yang dirintis Garbner ini menjelaskan bahwa orang yang mengonsumsi isi televisi dalam periode cukup panjang akan memiliki pandangan yang identik dengan isi televisi.

Televisi sebagai media, menanamkan pengaruhnya dan memberi dampak pada terbentuknya isi pikiran penonton.

Manakala televisi memuat informasi tentang banyaknya kasus gagal ginjal akut di sebuah kota, maka warga kota penonton televisi akan terpengaruh.

Mereka mengganggap bahwa sekitar tempat hidupnya terancam akibat banyaknya kasus gagal ginjal akut.

Baca Juga: Saat Perempuan Mempertaruhkan Kesehatan Mental di Zaman Digital

Ini merupakan dampak pertama televisi, terjadinya mainstreaming. Terbentuknya arus utama isi pikiran penonton sebagaimana isi siaran televisi.

Pada dampak berikutnya, televisi yang terus ditonton menyebabkan resonance (resonansi).

Penonton tanpa sadar menyamakan yang terjadi di sekitarnya, sesuai dengan isi media. Isi siaran televisi turut disuarakan penonton dalam melihat peristiwa yang ada di sekitarnya.

Ketika ada anak tetangga yang mengalami sakit dan menjadi parah dalam waktu singkat, serta merta para tetangga berpikir kalau anak yang sakit itu mengalami gagal ginjal akut.

Memang penelitian Garbner tak bisa jadi penjelasan tuntas pada yang dialami pengguna media sosial. Dan perhatian Garbner dengan penelitiannya, lebih pada dampak kekerasan yang dipertontonkan televisi bagi khalayaknya.

Sehingga, apakah media sosial punya dampak yang sama dengan televisi maupun media lainnya? Tak serta merta prosesnya dapat disamakan dengan uraian Garbner.

Namun menilik cara kerja akal budi manusia, yang tak terlalu membedakan media yang diserapnya, boleh jadi hal yang terjadi di televisi, juga identik terjadi di media sosial.

Tentu perlu penelitian untuk memastikan hal ini, untuk menghindari kegegabahan dalam menarik kesimpulan. Namun sedikit banyak media sosial punya cara kerja yang identik dengan media lainnya.

Ini berarti, media sosial punya pengaruh sama besar, bahkan lebih kuat, dibanding media yang diteliti Garbner.

Mainstreaming dan resonance yang terbentuk karena berulang dan makin banyaknya unggahan media sosial, berdampak membentuk pikiran penggunanya.

Menambal “Bocornya” Ketakutan ke Dunia Nyata

Teror ketakutan yang ditebarkan media sosial, bakal merembes jadi ketakutan di dunia nyata. Tentu ini jadi keadaan yang tak menguntungkan, termasuk untuk kesehatan mental perempuan.

Terlebih banyak penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial oleh perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.

Ini akibat perempuan rata-rata punya lebih banyak pengikut dibanding laki-laki. Maka waktu penggunaan media sosial oleh perempuan lebih panjang dari laki-laki.

Efek kulitivasi media sosial lebih intensif terjadi di kalangan perempuan. Imbas ancaman merembesnya teror oleh unggahan media media, rentan memangsa perempuan.

Perempuan yang terteror akan sulit berkonsentrasi pada tugas utamanya, produktivitasnya menurun, bahkan gangguan mental jadi taruhannya.

Maka untuk keluar dari keadaan ini: adanya pengaturan waktu interaksi perempuan dengan media sosial, maupun kedisiplinannya dalam penggunaan akal sehat, jadi kunci menepis teror ketakutan.

Kawan Puan, perembesan teror media sosial di kehidupan nyata dapat diminimalkan.

Demi kesehatan mental, kenyamanan keluarga, dan kewarasan masyarakat; menepis teror ketakutan dapat ditempuh dengan mengendalikan penggunaan media sosial. Dan tentu saja, penggunaan akal sehat.

Banyak yang bisa dilakukan perempuan, selain menelan unggahan teror. (*)