Pakar Sebut Kebanyakan Orang Indonesia Alami Overthinking, Mengapa?

Kinanti Nuke Mahardini - Kamis, 27 Februari 2025
Overthinking dan penyebabnya
Overthinking dan penyebabnya wichayada suwanachun

Parapuan.co - Kebanyakan orang Indonesia mengalami overthinking atau berpikir negatif berlebihan karena empat alasan, termasuk harga bahan pokok yang terus meroket. 

Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) dengan Peneliti Utama Dr. Ray Wagiu Basrowi mengungkap bahwa kebanyakan orang Indonesia cenderung mengalami pola pikir negatif yang berulang atau repetitive negative thinking.

Setengah dari populasi orang Indonesia yang diteliti juga sangat khawatir dengan masa depan mereka, sehingga dikategorikan sebagai overthinking. 

Berdasarkan siaran pers yang diterima PARAPUAN dari HCC, penelitian mereka dilakukan pada 1.061 responden dari 29 provinsi selama bulan Januari hingga Februari 2025.

Studi menemukan bahwa 50 persen dari mereka mengalami overthinking, sementara 30 persen mengalami ruminasi atau kebiasaan berpikir berulang tentang kejadian negatif di masa lalu tanpa solusi.

Meski begitu, sebanyak 19 persen responden memiliki pola pikir reflektif yang lebih sehat.

Ada Dampak Psikologis

Menurut Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, selaku peneliti utama, fenomena overthinking ini bukan hanya sekadar kebiasaan berpikir negatif. Overthinking juga memiliki dampak psikologis yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Overthinking ditemukan secara luas pada separuh orang Indonesia yang diwakili responden penelitian ini, dengan overthinking dominan terlihat pada usia muda kurang dari 40-tahun, perempuan, dan yang tidak bekerja atau yang baru saja kehilangan pekerjaan," ujar Ray. 

Baca Juga: Bersih-Bersih Rumah Bermanfaat untuk Kesehatan Mental, Mengapa?

Ia juga menambahkan bahwa kekhawatiran berlebihan biasanya disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam studi ini, ada 4 faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kasus overthinking di Indonesia, yakni: 

1. Kenaikan harga bahan pokok yang signifikan. Hal ini meningkatkan risiko overthinking hingga dua kali lipat.

2. Biaya pengobatan yang semakin mahal, sehingga meningkatkan resiko overthinking hingga 2,2 kali lipat.

3. Informasi politik yang membingungkan meningkatkan resiko overthinking hingga 1,8 kali lipat.

4. Faktor kesehatan, seperti berita tentang penyakit baru dan resiko wabah, menjadi pemicu dominan overthinking.

Siapa yang Rentan Overthinking?

Menurut penelitian di atas, perempuan lebih rentan mengalami overthinking dibandingkan laki-laki. Pikiran negatif berlebihan ada pada perempuan dengan resiko dua kali lipat lebih tinggi.

"Hal ini sebagian besar besar diperparah karena adanya beban ganda dan peran ganda perempuan yang harus menjadi istri, ibu rumah tangga dan juga pekerja. Sehingga ketika perempuan usia produktif kehilangan pekerja, misalnya karena PHK, maka resiko overthinking menjadi berlipat ganda,” ungkap Ray.

Mereka yang sering overthinking biasanya lebih mudah mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi. 

"Literasi kesehatan mental serta penyampaian informasi kebijakan yang lebih humanis juga menjadi kunci dalam mengurangi kecemasan dan kekhawatiran berlebihan di masyarakat," pungkas Ray. 

Baca Juga: Barang-Barang di Rumah Hilang Misterius, Kenali Apa Itu Disappearing Object Phenomenon



REKOMENDASI HARI INI

Pakar Sebut Kebanyakan Orang Indonesia Alami Overthinking, Mengapa?