2. Hujan Salju Meningkatkan Risiko Kedinginan
Sementara menurut laman UK Climbing, saat mendaki di musim musim hujan atau di daerah bersalju, risiko hipotermia meningkat drastis. Air yang masuk ke dalam pakaian dan sepatu dapat mempercepat penurunan suhu tubuh karena air adalah konduktor panas yang baik.
Kondisi basah mempercepat pendinginan tubuh hingga 25 kali lebih cepat dibandingkan dengan kondisi kering.
3. Kurangnya Asupan Kalori yang Menyebabkan Dehidrasi
Pendaki membutuhkan energi yang besar untuk tetap hangat di lingkungan bersuhu rendah. Jika tubuh kekurangan asupan makanan, produksi panas tubuh akan menurun, sehingga meningkatkan risiko hipotermia.
Sebagai informasi, tubuh membakar lebih banyak kalori saat berada di tempat dingin karena harus bekerja ekstra untuk mempertahankan suhu inti. Selain itu, dehidrasi juga bisa memperburuk kondisi ini karena cairan dalam tubuh berperan penting dalam menjaga keseimbangan termal.
4. Kurangnya Istirahat
Pendaki yang kelelahan atau kurang tidur akan lebih sulit mempertahankan suhu tubuh optimal. Keletihan membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk menghasilkan panas secara efektif, sementara kurang tidur dapat memengaruhi fungsi metabolisme yang berperan dalam termoregulasi.
Baca Juga: Ingin Mendaki Gunung Akhir Pekan? Ini Tips untuk Pendaki Pemula
Pendaki yang mengalami kelelahan ekstrem lebih rentan mengalami hipotermia, terutama jika berada di lingkungan yang dingin dan basah.
5. Hipoksia yang Memengaruhi Suhu Tubuh
Semakin tinggi suatu tempat, semakin tipis kadar oksigen di udara. Kondisi ini disebut hipoksia, yang dapat memengaruhi sistem regulasi suhu tubuh.
Hipoksia dapat menghambat kemampuan tubuh dalam memproduksi panas, yang pada akhirnya meningkatkan risiko hipotermia. Itulah mengapa pendaki yang belum terbiasa dengan ketinggian lebih rentan mengalami kondisi ini.
Baca Juga: Tips Mendaki Gunung saat Musim Hujan, Perhatikan Jalur Pendakian
(*)