- Tetap tenang dan konsisten: Saat tantrum terjadi, pastikan anak aman dan tidak melukai dirinya sendiri atau orang lain. Validasi perasaannya sambil tetap menetapkan batasan yang jelas.
2. Usia 8-9 Tahun: Pergolakan Antara Anak Kecil dan Anak Besar
Meskipun usia 8 tahun sering dianggap sebagai masa keemasan anak, pada kenyataannya, banyak orang tua merasa usia ini adalah salah satu yang paling sulit. Anak mulai menunjukkan tanda-tanda awal pubertas, yang bisa dimulai sejak usia 8 tahun pada anak perempuan dan 9 tahun pada anak laki-laki.
Mereka mulai lebih mandiri, tetapi di sisi lain, masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang dari orang tua. Beberapa tantangan utama pada usia ini meliputi:
- Anak mulai membantah dan menolak melakukan tugas rumah tangga.
- Mereka ingin membuat keputusan sendiri dalam berbagai aspek, seperti pakaian dan aktivitas, tetapi masih belum sepenuhnya memahami konsekuensinya.
- Mulai muncul perilaku seperti membanting pintu dan merajuk sebagai bentuk ekspresi diri.
Untuk menghadapi tantangan ini, orang tua bisa mencoba beberapa pendekatan berikut:
- Tetapkan aturan yang jelas: Anak usia ini masih membutuhkan struktur dan batasan agar merasa aman.
- Berikan pujian berbasis usaha: Daripada memuji anak sebagai "anak pintar," lebih baik berikan pujian seperti "Kamu sudah berusaha keras menyelesaikan PR-mu!"
- Libatkan anak dalam pekerjaan rumah: Tugas-tugas kecil dapat membantu mereka merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab dalam keluarga.
3. Usia 12-14 Tahun: Masa Remaja Awal yang Penuh Gejolak