Ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada beberapa strategi yang dapat Kawan Puan terapkan untuk merespons dengan nyaman dan tanpa menyinggung penanya:
- Jawab dengan santai dan sedikit humor
Menggunakan humor dapat meredakan ketegangan. Misalnya, saat ditanya "Kapan menikah?", kamu bisa menjawab, "Tunggu tanggal mainnya, ya!"
- Alihkan pembicaraan
Setelah menjawab singkat, segera alihkan topik pembicaraan ke hal lain yang lebih umum atau menarik bagi semua orang. Misalnya, "Oh iya, ada film romantis baru yang rilis Lebaran, yuk nonton."
- Jawab dengan jujur namun tegas
Jika merasa nyaman, kamu bisa menjawab dengan jujur mengenai situasimu, namun tetap dengan batasan yang bisa kamu tentukan sendiri.
- Gunakan jawaban diplomatis
Misalnya, "Doakan saja yang terbaik," atau "Semoga semuanya lancar sesuai rencana."
- Tetapkan batasan
Jika pertanyaan dirasa terlalu pribadi, tidak ada salahnya untuk dengan sopan menyampaikan bahwa kamu kurang nyaman membahas hal tersebut.
Menghindari Pertanyaan yang Sensitif
Bagi anggota keluarga lainnya, penting untuk lebih peka dan menghindari pertanyaan atau komentar yang dapat menyinggung perasaan. Beberapa topik yang sebaiknya dihindari antara lain:
- Status pernikahan: Menghindari pertanyaan tentang kapan seseorang akan menikah.
- Rencana memiliki anak: Tidak menanyakan kapan pasangan akan memiliki anak.
- Penampilan fisik: Menjauhkan diri dari komentar tentang berat badan atau penampilan fisik lainnya.
Dengan lebih peka dan bijak dalam berkomunikasi, suasana silaturahmi dapat tetap hangat tanpa menimbulkan ketidaknyamanan bagi siapapun.
Pertanyaan-pertanyaan pribadi yang sering muncul saat acara keluarga dapat menimbulkan tekanan sosial, terutama bagi perempuan. Penting bagi kita semua untuk lebih bijak dalam berkomunikasi dan menghargai privasi orang lain.
Bagi yang menerima pertanyaan tersebut, memiliki strategi untuk merespons dengan nyaman dapat membantu menjaga suasana tetap harmonis.
Baca Juga: Bagaimana Mengakhiri Tradisi Bagi-Bagi Angpao Lebaran yang Memberatkan Keuangan Perempuan?
(*)