- Kesulitan menggunakan gerakan seperti menunjuk dan melambaikan tangan.
- Sangat mematuhi rutinitas dan bereaksi ekstrem terhadap perubahan kecil dalam rutinitas.
- Keengganan yang signifikan terhadap rangsangan sensorik, seperti suara keras, makanan atau tekstur makanan tertentu, atau jenis kain atau ukuran pakaian.
- Terlibat dalam perilaku berulang, seperti menumpuk mainan secara terus-menerus.
- Fiksasi atau minat obsesif terhadap hal-hal tertentu dengan mengabaikan hal lainnya.
Mengapa Anak Perempuan Autis Sulit Terdiagnosis?
Meskipun anak laki-laki dan perempuan dengan autisme mungkin memiliki gejala yang sama, gejala-gejala tersebut bisa ditunjukkan secara berbeda. Hal itu dapat memengaruhi diagnosis mereka.
Misalnya, anak laki-laki cenderung menunjukkan gejala stereotip yang terkait dengan autisme, seperti sering mengantre di gerbong kereta atau terpaku pada kereta api. Walaupun anak perempuan juga dapat menunjukkan perilaku repetitif dan fiksasi, hal itu mungkin tidak mudah dikenali.
Baca Juga: Tingkatkan Keterampilan Anak dengan Autisme, Ini Pusat Terapi Sensori Integrasi
Seorang gadis muda mungkin tampak sedang bermain dengan boneka. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ia mungkin sebenarnya berulang kali menata boneka dan aksesorisnya di rumah boneka.
Dalam kedua contoh di atas, anak tersebut menunjukkan gejala gangguan spektrum autisme. Namun yang membedakan, perilaku dan minat anak laki-laki mungkin mengundang tanda tanya bagi orang tua dan guru. Sedangkan, perilaku dan minat anak perempuan tidak diperhatikan dan malah menganggapnya wajar.
Perbedaan lainnya adalah terletak pada cara bersosialisasi. Anak perempuan dengan austimes cenderung terlibat dalam kamuflase sosial. Anak perempuan autis kemungkinan besar menyadari bahwa mereka mengalami kesulitan sosial, namun tetap bekerja keras mempelajari bagaimana cara berinteraksi dan menyesuaikan diri.
Misalnya, anak autis sering kali lebih suka bermain sendiri daripada terlibat dalam kegiatan kelompok. Namun, anak perempuan dengan autisme cenderung berusaha menutupi kekurangannya. Mereka akan tetap bermain secara mandiri tetapi tetap dengan kelompok.
Di sisi lain, anak laki-laki akan bermain sendiri sambil menjaga jarak dari kelompoknya. Hal itu membuat lebih jelas bahwa mereka mengisolasi diri dari anak-anak lain.
Dengan penjelasan di atas, orang tua maupun pengasuh merupakan pihak yang paling mengenal anak mereka. Oleh karena itu, selalu perhatikan anak perempuan dan jangan menyepelekan tanda-tanda autisme. Segeralah untuk mencari bantuan jika kamu memiliki kekhawatiran pada mereka.
Baca Juga: Ahli Jelaskan Dua Jenis Terapi Utama untuk Anak dengan Autisme
(*)