Komnas PA: Kekerasan Perempuan dan Anak Berdampak Buruk ke Fungsi Otak

Putri Mayla - Kamis, 29 April 2021
Ilustrasi kekerasan pada perempuan dan anak perempuan
Ilustrasi kekerasan pada perempuan dan anak perempuan dreamtime

Parapuan.co - Kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa menyebabkan penderitaan mental, ketakutan, rasa tidak berdaya, tidak percaya diri, depresi dan stres berkepanjangan bagi korban.

Retty Ratnawati selaku Komisioner Komnas Perempuan mengatakan bahwa kondisi perempuan Papua saat ini memiliki kekerasan berlapis.

Angka kekerasan terhadap perempuan tinggi tetapi minim pelaporan terutama kasus KDRT dan kekerasan seksual.

Baca Juga: Tak Kalah Berbahaya dari Fisik, Berikut Dampak Kekerasan Verbal

"Kekerasan apapun bentuknya dapat berpengaruh pada tubuh dan fungsi otak yang bisa menyebabkan stres dan gangguan mental," kata Retty dalam Diskusi Online #PAPUANWEEK bertajuk Hak atas Kesehatan dan Pemulihan Perempuan Papua, Rabu (28/4/2021).

Sehingga, korban kekerasan bisa mengalami penyakit yang mungkin tidak diderita kalau korban tidak mengalami kondisi kekerasan.

Retty menambahkan, suatu studi menyebutkan bahwa kondisi depresi karena sexual abuse pada sekitar 18% penderita kurang dari usia 16 tahun bisa mengalami depresi.

Korban usia lebih dari 16 tahun sebanyak 8% mengalami kondisi depresi ringan dan sedang.

Sedangkan 92% korban bisa mengalami kondisi depresi sedang hingga berat.

"Depresi meski tidak terlihat, bisa menyebabkan kemungkinan bunuh diri atau menunjukkan trauma. Orang menyebutnya dengan trauma psikologis," tambah Retty

Retty menambahkan, fungsi otak yang berubah akibat kekerasan bisa memengaruhi sistem organ tubuh yang lain.

Baca Juga: Pendidikan Seksual Komprehensif, Upaya Kurangi Risiko Kekerasan Berbasis Gender Online

"Karena otak memiliki fungsi yang berbeda, jika ada yang rusak bisa memengaruhi yang lain," papar Retty.

Biasanya akan berpengaruh terhadap sistem pencernaan, jantung, paru-paru, dan juga pankreas.

Retty menambahkan, kemampuan kognitif yang berkurang akibat kekerasan bisa mengakibatkan perubahan pada perilaku pada korban.

"Korban kekerasan tidak selalu menjadi bodoh karena kemampuan kognitifnya berkurang. Tapi, ada hal yang menyebabkan ia lebih suka menyendiri, dan selalu merasa terintimidasi", jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi trauma ini berat jika dibandingkan dengan trauma fisik.

Sebab trauma fisik terlihat bentuknya, namun trauma psikis tidak terlihat.

(*)

Sumber: Diskusi Online #PAPUANWEEK Komnas Perempuan dan AJAR
Penulis:
Editor: Aulia Firafiroh


REKOMENDASI HARI INI

Komnas PA: Kekerasan Perempuan dan Anak Berdampak Buruk ke Fungsi Otak