Parapuan.co - Perceraian adalah keputusan besar yang tidak hanya memengaruhi pasangan, tetapi juga anak-anak mereka.
Banyak orang tua yang bercerai berpegang pada keyakinan tertentu yang ternyata tidak sepenuhnya benar.
Bahkan, tak sedikit pasangan yang meyakini anak-anak bisa menyesuaikan diri setelah orang tuanya bercerai.
Mengutip Your Tango, ini beberapa mitos yang sering dipercaya oleh orang tua yang bercerai dan fakta di baliknya!
1. "Anak-anak Ingin Orang Tuanya Bahagia"
Banyak orang tua berpikir bahwa anak-anak mereka ingin melihat mereka bahagia, tetapi kenyataannya, anak-anak lebih menginginkan stabilitas dan keutuhan keluarga.
Mereka berharap orang tua mereka bisa menyelesaikan masalah, bersikap dewasa, dan menciptakan lingkungan rumah yang aman dan bahagia.
Masa kanak-kanak adalah masa yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan, bukan kekhawatiran tentang kebahagiaan orang tua.
2. "Anak Saya Akan Lebih Baik Setelah Perceraian"
Baca Juga: Pertimbangkan 5 Hal Ini sebelum Perempuan Menikah Lagi Usai Bercerai
Tidak selalu demikian. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua yang bercerai lebih rentan mengalami masalah emosional dan perilaku.
Mereka juga lebih mungkin mengalami kesulitan finansial serta berisiko menghadapi perlakuan buruk dari orang dewasa lain dalam kehidupan mereka.
Walaupun perceraian terkadang menjadi pilihan terbaik, anak-anak umumnya lebih baik tumbuh dalam rumah tangga yang stabil dengan konflik rendah, meskipun orang tua mereka tidak sepenuhnya bahagia.
3. "Pernikahan Saya yang Selanjutnya Akan Lebih Baik"
Banyak orang mengira bahwa pernikahan kedua atau ketiga akan lebih baik, tetapi statistik menunjukkan bahwa angka perceraian lebih tinggi pada pernikahan kedua dan seterusnya.
Salah satu penyebabnya adalah banyak orang tidak benar-benar mengubah kebiasaan buruk mereka dalam hubungan.
Selain itu, pernikahan yang melibatkan anak dari hubungan sebelumnya sering kali menambah kompleksitas dan tantangan baru.
4. "Hubungan Saya dengan Anak Tidak Akan Berubah"
Fakta menunjukkan bahwa hubungan orang tua dan anak pasti berubah setelah perceraian.
Baca Juga: 9 Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Membuat Anak Menjauh Ketika Dewasa
Orang tua yang tidak tinggal serumah dengan anak akan kehilangan sebagian besar momen penting dalam kehidupan mereka.
Anak-anak juga bisa merasa ditinggalkan, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyimpan dendam terhadap orang tua karena perpisahan tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua yang bercerai untuk tetap hadir secara emosional dan membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak mereka.
5. "Saya Tidak Akan Menyesali Keputusan Ini"
Setelah emosi mereda, banyak orang tua yang bercerai mulai merasakan penyesalan, terutama saat melihat dampak perceraian pada anak-anak mereka.
Saat memasuki usia tua, mereka mungkin kehilangan rasa bangga yang bisa dirasakan jika memiliki keluarga yang utuh, di mana anak dan cucu mereka tetap berkumpul dalam satu ikatan yang harmonis.
6. "Kami Tidak Perlu Bertahan Demi Anak"
Memang tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang penuh dengan kekerasan atau konflik berkepanjangan.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih baik tumbuh dalam rumah tangga yang stabil dan harmonis, meskipun orang tua mereka tidak bahagia sepenuhnya.
Baca Juga: Ada KDRT, Ini Alasan Perempuan Sebaiknya Tidak Bertahan dalam Hubungan Toksik demi Anak
Jika konflik dalam pernikahan masih bisa diselesaikan, sebaiknya orang tua mempertimbangkan semua opsi sebelum memutuskan untuk bercerai.
7. "Perceraian Akan Menyelesaikan Masalah Saya"
Banyak orang tua berpikir bahwa perceraian akan menjadi solusi untuk semua masalah mereka, tetapi kenyataannya, perceraian sering kali membawa serangkaian masalah baru.
Mereka harus menghadapi ketidakpastian dalam mengasuh anak, kemungkinan pasangan baru yang masuk dalam kehidupan anak, serta berbagai tantangan emosional dan finansial.
8. "Anak-Anak Akan Beradaptasi dengan Perceraian"
Anak-anak tidak benar-benar "beradaptasi", mereka hanya berusaha bertahan.
Ketika rumah mereka terpecah, atau orang tua membawa pasangan baru ke dalam hidup mereka, anak-anak sering kali menutup diri secara emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga bercerai lebih mungkin mengalami perceraian di masa dewasa karena mereka belajar bahwa hubungan itu tidak stabil.
Intinya, tidak ada perceraian yang tidak berdampak negatif, baik pada kehidupan pasangan maupun anak-anak mereka.
Baca Juga: Cara Perempuan Mandiri Bangun Kembali Kesehatan Mental dan Emosional Setelah Perceraian
(*)