Melansir Kompas.com, kasus korupsi Pertamina ini tidak hanya berdampak pada keuangan negara, melainkan juga menggerus Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pemerintah harus mengalokasikan dana yang jauh lebih besar untuk subsidi yang seharusnya digunakan untuk sektor lain.
Misalnya dari sektor pendidikan, kesehatan, atau dana yang bisa disubsidi untuk sektor pembangunan infrastruktur. Lebih jauh lagi, kasus korupsi Pertamina berdampak luas terhadap ekonomi negara.
Contohnya, impor minyak mentah dengan harga tinggi meningkatkan harga dasar BBM, yang pada akhirnya memaksa pemerintah mengeluarkan subsidi dalam jumlah besar. Jika impor dilakukan dengan harga wajar, subsidi yang diberikan bisa jauh lebih rendah sehingga APBN bisa lebih hemat dan dialokasikan ke sektor lain.
Dampak lainnya, masyarakat Indonesia juga harus membayar BBM lebih mahal dari seharusnya. Hal ini juga berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi, menekan daya beli masyarakat, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Korupsi Pertamina ini seakan menunjukkan ketidakseimbangan dalam kebijakan energi nasional. Padahal sudah ada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 42 Tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Kebutuhan Dalam Negeri.
Dalam peraturan tersebut, Indonesia harus mengutamakan produksi minyak mentah dalam negeri sebelum impor. Tapi dalam praktiknya, pejabat Pertamina mengabaikan produksi dalam negeri dan lebih memilih impor dengan harga tinggi.
Korupsi Pertamina Juga Berdampak pada Perempuan
Korupsi Pertamina berdampak langsung pada kenaikan harga BBM. Kenaikan ini memperberat beban ekonomi rumah tangga, terutama bagi perempuan yang seringkali berperan sebagai pengelola keuangan keluarga.
Baca Juga: Duh, Perempuan Juga Punya Kecenderungan Korupsi! Ini Penjelasan KPK
Dengan anggaran yang semakin terbatas, perempuan harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup mereka sendiri. Belum lagi jika dalam rumah tangga hanya ada satu pencari nafkah atau bahkan ibu tunggal.