Parapuan.co - Sebagai orang tua, wajar jika kita ingin bersikap adil dalam mendidik anak. Kita berusaha mendengarkan keluhan mereka, menetapkan aturan dengan bijak, serta memberikan disiplin yang sesuai dengan usia mereka.
Namun, menghadapi anak yang terus menguji batas kesabaran bukanlah hal yang mudah. Jika ingin menerapkan pola asuh yang lebih demokratis dan memperlakukan anak sebagai mitra dalam keluarga, maka democratic parenting bisa menjadi pilihan.
Apa itu democratic parenting atau pola asuh demokratis? Simak pengertian dan bagaimana penerapannya sebagaimana merangkum Parents di bawah ini!
Pengertian Democratic Parenting
Democratic parenting adalah gaya pengasuhan yang menekankan rasa saling menghormati dan kemandirian anak. Berbeda dengan asumsi awal yang mungkin mengaitkan konsep ini dengan politik, democratic parenting bukan berarti anak memiliki hak suara penuh dalam keluarga.
Sebaliknya, pendekatan ini berfokus pada upaya membantu anak menghadapi tantangan, memahami batasan, serta belajar membuat keputusan yang bijak.
Blaise T. Ryan, penulis buku "Democratic Parenting: Evolving Beyond Authoritarian and Permissive Parenting", menjelaskan bahwa metode ini bertujuan untuk mengajarkan anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka, bukan sekadar memberi mereka kebebasan penuh dalam mengambil keputusan.
Karakteristik Democratic Parenting
Orang tua yang menerapkan democratic parenting memiliki ciri-ciri berikut:
- Menetapkan Batasan yang Jelas
Orang tua menetapkan aturan yang tegas tetapi tetap memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia anak. Pendekatan ini membedakan democratic parenting dari pola asuh permisif (terlalu longgar) dan otoriter (terlalu ketat).
Baca Juga: Dilakukan Halimah, Mengapa Gentle Parenting Masih Sulit untuk Diterapkan?
- Memahami Alasan di Balik Perilaku Anak
Dalam menghadapi perilaku sulit, orang tua mencari akar penyebabnya, misalnya apakah anak sedang lapar, lelah, atau mengalami tekanan emosional.
- Menggunakan Komunikasi Kolaboratif
Orang tua tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga mengajak anak berdiskusi untuk menemukan solusi yang adil bagi semua pihak dalam keluarga.
- Mengajarkan Regulasi Emosi
Dengan mencontohkan cara mengendalikan emosi, orang tua membantu anak belajar mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang sehat.
Penerapan Democratic Parenting dalam Kehidupan Sehari-hari
Pola asuh ini menuntut orang tua untuk bersikap reflektif dan penuh perhatian terhadap kebutuhan anak. Saat menghadapi konflik, langkah-langkah berikut dapat diterapkan:
- Mengenali Kebutuhan Anak
Sebelum bereaksi terhadap perilaku anak, tanyakan kepada diri sendiri apakah mereka memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi, seperti kelelahan atau kebosanan.
- Mengidentifikasi Sumber Stres
Perubahan besar dalam hidup, seperti pindah rumah atau masalah di sekolah, dapat memengaruhi perilaku anak. Orang tua perlu memahami konteks ini sebelum mengambil tindakan.
- Mengamati Pengaruh Lingkungan
Anak sering kali meniru perilaku yang mereka lihat di sekitar mereka, baik dari teman, televisi, maupun orang tua sendiri. Dengan memahami hal ini, orang tua bisa memberikan arahan yang lebih baik.
Setelah menemukan penyebab masalah, orang tua dapat membantu anak menenangkan diri sebelum berdiskusi tentang solusi yang lebih baik untuk menghadapi situasi serupa di masa depan.
Baca Juga: Memicu Stres, 5 Tren Parenting Ini Diharapkan Berubah di Tahun 2025
Manfaat Democratic Parenting
Meskipun gaya pengasuhan demokratis membutuhkan usaha ekstra, banyak manfaat yang bisa diperoleh, antara lain:
- Anak belajar mengatur diri sendiri dengan lebih baik.
- Anak lebih memahami kebutuhan mereka dan mampu mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat.
- Anak lebih menghargai orang lain dan memiliki rasa empati yang tinggi.
Dengan menerapkan democratic parenting, anak tidak hanya akan lebih patuh terhadap aturan keluarga, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi untuk mempertimbangkan kebutuhan orang lain sebelum bertindak.
Tantangan dalam Menerapkan Democratic Parenting
Seperti halnya metode pengasuhan lainnya, democratic parenting juga memiliki tantangan tersendiri. Orang tua dituntut untuk tetap tenang dan sabar, meskipun sedang dalam kondisi lelah atau stres.
Untuk mengatasi hal ini, penting bagi orang tua untuk tetap menjaga keseimbangan emosional mereka dengan melakukan selfcare atau perawatan diri, seperti tetap punya waktu me time, bisa curhat dengan teman, serta bersedia meminta bantuan profesional bila dirasa perlu.
Tips Menerapkan Democratic Parenting
Bagi orang tua yang ingin mencoba gaya pengasuhan ini, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Bertanya dengan Empati
Saat anak menunjukkan perilaku sulit, alih-alih langsung menghukum, cobalah bertanya, "Apa yang kamu butuhkan sekarang?" untuk membantu mereka mengenali emosinya.
- Mengutamakan Perawatan Diri
Orang tua yang sehat secara emosional lebih mampu menghadapi tantangan pengasuhan dengan cara yang lebih bijak dan terkendali.
Democratic parenting bukan hanya tentang mengubah perilaku anak, tetapi juga mengubah cara pandang orang tua terhadap anak dan interaksi dalam keluarga.
Dengan kesabaran dan konsistensi, metode ini bisa membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara orang tua dan anak.
Baca Juga: Mengenal Istilah Baru Pola Asuh Fafo Parenting, Akankah Jadi Tren?
(*)